EMPAT NEGARA PERKUAT PERTAHANAN DUNIA MAYA UNTUK ANTISIPASI SERANGAN SIBER

Empat negara yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, India, dan Jepang (Quad) telah membangun kerjasama dunia maya dalam bentuk saling berbagi informasi tentang serangan siber yang menargetkan fasilitas infrastruktur penting. Data serangan akan digunakan setiap negara untuk menyiapkan langkah pertahanan dan mitigasi dengan cepat.

Keempat negara anggota Quad tersebut berusaha kesepakatan tersebut dapat tercapai dalam pertemuan puncak mereka yang akan dilaksanakan di Australia pada akhir Mei mendatang.  Penggunaan “perang hibrida” yang merupakan gabungan serangan dunia maya dan senjata konvensional oleh Rusia dalam invasinya ke Ukraina telah menjadikan isu pertahanan dunia maya sebagai isu yang memiliki skala prioritas mendesak dalam menghalangi Rusia dan China.

Disebutkan, bahwa dalam peperangan modern serangan dunia maya sering digunakan sebagai serangan awal untuk mengganggu sistem sosial sebelum serangan fisik seperti serangan rudal. Pembangkit listrik dan fasilitas telekomunikasi telah menjadi sasaran utama serangan siber selama invasi Rusia ke Ukraina.

Amerika Serikat, Australia, India, dan Jepang akan bekerja sama untuk menciptakan sistem yang memungkinkan Tim Tanggap Darurat Komputer (CERT) masing-masing negara untuk terus berkoordinasi melaporkan serangan dunia maya atau kerusakan terhadap infrastruktur penting. Sistem akan dirancang untuk berbagi informasi dengan segera, termasuk perusahaan swasta yang mengelola infrastruktur.

Serangan dunia maya seperti distributed denial of service telah menjadi serangan yang makin canggih. Setelah sumber dan metode serangan dunia maya terhadap salah satu dari empat negara sudah diketahui, maka akan lebih mudah bagi yang lain untuk mengantisipasinya. Amerika Serikat telah menyiapkan organisasi, baik pemerintah maupun swasta untuk membuat software pelindung sistem jika terjadi serangan. Keempat negara Quad juga akan mulai menyusun standar keamanan untuk software yang akan dibeli oleh lembaga pemerintah mereka.

Jika diantara keempat negara dalam mendapatkan perangkat lunak yang memenuhi standar keamanan telah terbentuk, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk bekerja secara fleksibel dalam keadaan darurat. Perusahaan keamanan siber, Nord VPN, dalam surveynya melaporkan, bahwa penyedia layanan keamanan internet di Amerika Serikat mengalami 198x serangan siber serius yang menargetkan lembaga pemerintah dan organisasi lainnya sejak tahun 2006 hingga 2021. Serangan ini menjadi serangan dengan jumlah lebih banyak dari pada negara lain. Ingris menempati tempat kedua dengan jumlah 58x serangan kemudiaan diikuti India dengan 32x serangan Australia dan Jepang menjadi sasaran masing-masing 22 dan 16 kali. Beberapa analis percaya bahwa serangan siber ini melibatkan China, Rusia, dan Korea Utara.

 

Link: Infosecurity-Magazine

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.